Saturday, November 5, 2011

Pengertian Kurikulum

Kurikulum (curriculum), pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh mendali / penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir progam pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.

Jika kita mempelajari buku - buku atau literatur lainnya tentang kurikulum, terutama yang berkembang di negara-negara maju, akan banyak ditemukan pengertian yang lebih luas dan beragam. Kurikulum itu tidak terbatas hanya pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.

Harold B. Alberty – 1965 (tim pengembang,2) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the school). Kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas saja, tetapi mencakup juga kegiatan - kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar kelas.

Pendapat yang senada dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis – 1974 (tim pengembang,2) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi oleh siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah. Selanjutnya berdasarkan hasil pengumpulan informasi tentang kata kurikulum tahun 1916 – 1982 diperoleh beberapa pernyataan yang dapat dikembangkan sebagai definisi dari kurikulum.
  • Jhon Dewey (1916), … education consists primarily in transmission through communication. … as societies become more complex in structure and resources, the need for formal or intentional teaching and learning increases.
  • William C. Bagley (1907), [the curriculum] … is a storehouse of organized race experience, conserved [until] needed in the constructive solution of new and untried problems.
  • Frederick G. Bonser (1920), … experiences in which pupils are expected to engaged in school, and the general . . . sequence in which these experiences are to come.
  • Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell (1935), … all of the experience children have under the guidance of teachers.
  • Robert M. Hutchins (1936), the curriculum should include grammar, reading, rhetoric and logic, and mathematics, and in addition at the secondary level introduce the great books of western world.
  • Pickens E. Harris (1937), … real curriculum development is individual. It is also multiple in the sense that there are teachers and separate children . . . there will be a curriculum for each child.
  • Henry C. Morrison (1940), … the content of instruction without reference to instructional ways or means.
  • Dorris Lee and Murray Lee (1940), … those experiences of the child which the school in any way utilizes or attempts to influence.
  • L. Thomas Hopkins (1941), the curriculum [is a design made] by all of those who are most intimately concerned with activities of the life of the children while they are in school … a curriculum must be as flexible as life and living. It cannot be made beforehand and given to pupils and teachers to install. [also, it] … represents those learning each child selects, accepts, and incorporates into himself to act with, in, and upon in subsequent experiences.
  • H. H. Giles, S. P. McCutchen, and A. N. Zechiel (1942), … the curriculum is … the total experiences with which the school deals in educating young people.
  • Harold Rugg (1947), [The curriculum] the … stream of guided activities that constitutes the life of young people and their elders. [in a much earlier book, Rugg disapprovingly spoke of the tradisional curriculum as one “… passing on descriptons of earlier cultures and to perpetuating dead languages and abstract techniques which were useful to no more than a negligible fraction of our population.”]
  • Ralph Tyler (1949), … learning takes place through the experience the learner has… “learning experience” … [The curriculum consist of]… all of the learning of students which is planned by and directed by the school to attain its educational goals.
  • Edward A. Krug (1950), … all learning experience under the direction of the school.
  • B. Othanel Smith, W. O. Stanley, and J. Harlan Shores (1950), … a sequence of potential experience … set up in school for the purpose of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting.
  • Roland B. Faunce and Nelson L. Bossing (1951), … those learning experiences that fundamental for all learners because they derive from (1) our common, individual drives and needs, and (2) our civic and social needs as participating members of a democratic society.
  • Authur E. Bestor (1953), The economic, political, and spiritual health of a democratic state … requires of every man and woman a variety of complex skills which rest upon sound knowledge of science, history, economic, philosophy, and other fundamental disiplines … The fundamental disciplines … have become, in the jargon of … educationists, “subject matter fields.” But a discipline is by no means the same as a subject matter field. The one is a way of thinking, the other a mere aggregation of facts.
  • Harold Alberty (1953), All of the activities that are provided for students by the school constitute its curriculum.
  • George Beauchamp (1956), … the design of a social group for the educational experiences of their childen in school. [Dr. Beauchamp reflects growing emphasis on group processes by the 1950s]
  • Philip H. Phenix (1962), The curriculum should consist entirely of knowledge which comes from the disciplines [while] educational should be conceived as guided recapitulation of the processes of inquiry which gave rise to the fruitful bodies of organized knowledge comprising the established disciplines.
  • Hilda Taba (1962), A curriculum is a plan for learning; therefore, what is know about the learning process and the development of the individual has beating on the shaping of a curriculum.
  • John I. Goddlad (1963), A curriculum consists of all those learnings intended for a student or group of students.
  • Harry S. Broudy, B. Othanel Smith, and Joe R. Burnett (1964), … modes of teaching are not, strictly speaking, a part of the curriculum [which] consist primarily of certain kinds of content organized into categories of instruction.
  • J. Galen Saylor and William M. Alexander (1966 and 1974), [the curriculum is] … all learning opportunities provided by the school … a plan for providing sets of learning opportunities to achieve broad educational goals and related specific objectives for an identifiable population served by a single school center.
  • The Plowden Report (British) (1967), The curriculum, in the narrow sense , [consist of] the subjects studied … in the period 1898 to 1944 …
  • Mauritz Johnwon, Jr. (1967), … a structured series of intended learning outcomes.
  • W. J. Popham and Eva L. Baker (1970), … all planned learning outcomes for which the school is reponsible.
  • Daniel Tanner and Laurel Tanner (1975), … the planned and guided learning experience and inteded learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and experience under the auspices of the school, for the learner’s continuous and will full growth in personalsocial competence.
  • Donald E. Orlosky and B. Othanel Smith (1978), curriculum is the substance of the school program. It is the content pupils are expected to learn.
  • Peter F. Oliva (1982), curriculum [is] the plan or program for all experience which the learner encounters under the direction of the school.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik mengandung pokok – pokok pikiran, sebagai berikut:
  1. Kurikulum merupakan suatu rencana / perencanaan;
  2. Kurikulum merupakan pengaturan, berarti mempunyai sistematika dan struktur tertentu;
  3. Kurikulum memuat / berisikan isi dan bahan pelajaran, menunjuk kepada perangkat mata ajaran atau bidang pengajaran tertentu;
  4. Kurikulum mengandung cara, atau metode atau strategi penyampaian pengajaran;
  5. Kurikulum merupakan pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar;
  6. Kendatipun tidak tertulis, namun telah tersirat di dalam kurikulum, yakni kurikulum dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;
  7. Berdasakan butir 6, maka kurikulum sebenarnya adalah suatu alat pendidikan.

Rumusan tersebut menjadi lebih jelas dan lengkap, karena suatu kurikulum harus disusun dengan memperhatikan berbagai faktor penting. Dalam undang – undang telah dinyatakan, bahwa:
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional,  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing – masing suatu kurikulum.
Rumusan tersebut menunjukkan, faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:
  1. Tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi tujuan – tujuan institusional, selanjutnya dirinci menjadi tujuan kurikuler yang pada gilirannya dirumuskan menjadi tujuan – tujuan instruksional (umum dan khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.
  2. Tahap perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar, yang mengacu pada proses pembelajaran.
  3. Kesesuaian dengan lingkungan menunjuk pada landasan sosiologis (kemasyarakatan) atau lingkungan sosial masyarakat dibarengi oleh landasan bioekologis atau kultur ekologis.
  4. Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan semua sektor ekonomi.
  5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesesuaian merupakan landasan budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
  6. Jenis dan jenjang satuan pendidikan merupakan landasan organisator di bidang pendidikan. Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.

Rumusan kurikulum sebagaimana dikemukakan oleh para ahli pendidikan menunjukkan kecenderungan berubah, dari rumusan yang bertolak dari isi / materi course of studi menjadi pengertian yang lebih luas, yakni … as all the learning experiences under the aegis of the school (Hills 118 dalam Oemar,93). Perubahan rumusan kurikulum yang menitikberatkan pada apa yang siswa kerjakan dan pelajari di sekolah dipengaruhi bukan semata-mata oleh mata ajaran yang diajarkan, melainkan bergantung pada tugas – tugas belajar yang disiapkan koherensi dan keseimbangan dalam keseluruhan dalam keseluruhan sekolah, bagaimana siswa terlibat secara reflektif dalam kurikulum, nilai – nilai dan tujuan – tujuan para guru, yang berkaitan dengan cara mereka menilai belajar siswa dan menilai dirinya sendiri. Cara yang sederhana untuk mempertimbangkan kurikulum adalah melihat kurikulum dari 4 fase, yakni: isi (content), metode (method), tujuan (purpose), dan evaluasi (evaluation).


sumber:
Tim Pengembang. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurtek FIP Universitas Pendidikan Indonesia.
Depdiknas. (1989). Sistem Pendidikan Nasional (RUU RI No 2 Thn 1989). Jakarta: Tuna Duta Jaya.
Oemar, H. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

No comments: